Ashabul Kahfi


Maxalmena (atau: Maksalmina, Maxalmina, Makh shalmina, Maq Shalmaina, Mixilmina) adalah salah satu nama yang diambil dari sejarah Aulia 7 (Al Qur’an, Surah Al Kahfi) atau disebut juga dengan Ashabul Kahfi. Yaitu kisah 7 pemuda yang tertidur lelap didalam gua selama 309 tahun, untuk melarikan diri dari kekejaman raja Dikyanus.

Menurut beberapa sejarahwan Islam, ketujuh pemuda tersebut bernama: Maksalmina, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika. Serta seekor anjing bernama Kithmir, yang dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga.

Banyak yang berpendapat sejarah ini terjadi di Suriah, tetapi ada beberapa ahli Al Qur’an dan Injil berpendapat mereka berasal dari Yordania.

Versi Kristen

Dalam mitologi Kristen kisah ini dikenal dengan nama The Seven Sleepers. Dalam kisah itu, Maxalmena dikenal juga dengan nama Maximillian. Nama ini merupakan asal-muasal sebutan nama modern untuk Max dan Martin (Martinus, kawan Maxalmena). Umat Katolik Italia menyebut nama Maxalmena dengan sebutan Massimilliano.

Kisah Tujuh Orang Pemuda yang Tertidur dari Efesus ini digolongkan ke dalam legenda mitologi Kristen.

Kerangka dasar dari cerita ini muncul dalam Gregorius dari Tours dan dalam Sejarah Orang-orang Lombard karya Paulus sang Diaken. Versi yang palnig terkenal dari cerita ini muncul dalam karya Jacobus de Voragine, Legenda Emas.

Kisah legendanya

Menurut cerita ini, pada masa penganiayaan oleh Kaisar Roma Decius, pada sekitar 250, tujuh orang pemuda dituduh memeluk agama Kristen. Mereka diberikan waktu untuk menyangkal iman mereka. Mereka menyerahkan harta mereka kepada orang miskin, lalu pergi ke gunung untuk berdoa, dan tertidur. Ketika melihat bahwa sikap mereka terhadap agama kafir belum berubah, kaisar memerintahkan agar mulut gua itu disegel.

Puluhan tahun berlalu. Setelah beberapa lama — pada masa pemerintahan Teodosius (379 – 395) — pemilik tanah itu memutuskan untuk membuka mulut gua yang disegel itu, untuk dijadikan kandang sapinya. Setelah dibuka, ia menemukan ketujuh pemuda itu sedang tidur di dalamnya. Mereka terbangun, dan merasa baru tertidur satu hari saja. Salah seorang dari mereka kembali ke Efesus. ia tercenang menyaksikan bangunan-bangunan dengan tanda-tanda salib di atasnya. Orang-orang yang ditemuinya tercengan ketika pemuda itu berusaha menggunakan mata uang lama dari pemerintahan Desius. Uskup dipanggil untuk mewawancarai ketujuh pemuda itu. Mereka menceritakan kisah ajaib itu, lalu meninggal sambil memuji Allah.

Sebuah hari peringatan dirayakan untuk ketujuh pemuda itu dan dinamai sebagai hari pesta Santo “Maximianus, Malchus, Martinianus, Dionisius, Yoannes, Serapion, dan Konstantinus” pada 27 Juli. Nama-nama lain dari ketujuh pemuda ini diberikan dalam sumber-sumber lain. Perayaan ini dihapuskan dan dianggap sebagai mitos setelah pembaruan liturgi Katolik Roma pada 1969. Pesta di kalangan Ortodoks Timur tetap diperingati pada 22 Oktober.

Pengembangan legenda

Sementara versi-versi paling awal dari legenda ini menyebar dari Efesus, sebuah katakumbe Kristen perdana dihubungkan dengannya, sehingga mengundang para peziarah. Di kaki Gunung Pion (Gunung Coelian) dekat Efesus (kini Selcuk, Turki, ‘Gua’ dari Ketujuh Pemuda yang Tertidur dengan reruntuhan gereja yang dibangun di atasnya digali pada 1927-1928. Penggalian itu mengungkapkan pula beberapa ratus makam yang berasal dari abad ke-5 dan ke-6. Terdapat pula tulisan-tulisan yang dipersembahkan kepada Ketujuh Pemuda itu di dinding-dinding gereja dan di makam-makam tersebut. ‘Gua’ tersebut masih diperlihatkan kepada para wisatawan.

Asal-usul Suriah

Legenda ini muncul dalam beberapa sumber berbahasa Suriah sebelum masa Gregorius. Kisah ini diceritakan kembali oleh Simeon Metafrastes.

Kisah Ketujuh Pemuda ini menjadi pokok sebuah homili dalam bentuk syair oleh seorang penyair Edesa, Yakub dari Saruq (‘Sarugh’) (meninggal 521), yang diterbitkan di Acta Sanctorum. Sebuah versi abad ke-6, dalam sebuah manuskrip Suriah di British Museum (Cat. Syr. Mss, hlm. 1090), menceritakan delapan orang yang tertidur. Ada variasi yang besar tentang nama-nama mereka.

Penyebaran

Legenda ini dengan cepat menyebar luas di seluruh Dunia Kristen, dipopulerkan di barat oleh Gregorius dari Tours, dalam kumpulan kisah mujizatnya dari abad ke-6 akhir, De gloria martyrum (Kemuliaan para Syuhada). Gregorius mengatakan bahwa ia memperoleh legenda itu dari “seorang Suriah tertentu.”

Pada abad ke-7, mitos ini semakin luas dibaca ketika kisahnya masuk ke dalam Al Qur’an dalam Surah 18, Al-Kahfi, ayat 9-14. Berikut ini disebutkan tulisan di gua itu:

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (Versi Dep. Agama RI)

Pada abad berikutnya, Paulus sang Diakon menceritakan kisah ini dalam bukunya Sejarah Orang-orang Lombard (i.7) namun memberikan konteks yang berbeda:

Di perbatasan Jerman yang paling jauh di sebelah barat-barat laut, di pantai samudra sendiri, sebuah gua tampak di sebuah batu karang yang menjorok; di sana selama masa yang tidak diketahui, tujuh orang pemuda tertidur lama sekali.

Pakaiaan mereka menunjukkan bahwa mereka orang Romawi, demikian Paulus, dan tak ada seorang barbar setempatpun yang berani menyentuh mereka.

Selama masa Perang Salib, tulang-tulang dari kuburan dekat Efesus, yang diidentifikasikan sebagai relikui dari Ketujuh Pemuda ini, dipindahkan ke Marseille, Prancis, dalam sebuah peti mati dari batu yang besar, yang hingga kini merupakan pusaka yang sangat dihargai di Gereja Saint Victoire, Marseille.

Ketujuh Pemuda ini dimasukkan dalam kumpulan cerita Legenda Emas, buku yang paling populer pada Abad Pertengahan Akhir, yang menetapkan tanggal kebangkitan mereka, tahun 478 M, pada masa pemerintahan Teodosius.(1)

Literatur modern awal

Mitos ini telah menjadi tamsil dalam budaya Protestan abad ke-16. Penyair John Donne bertanya, dengan nada yang skeptik,

‘tidakkah kami disapih sampai saat itu?

Namun tetap menikmati suka cita pedesaan, bagai kanak-kanak?

Atau mendengkur di gua Ketujuh Pemuda yang Tertidur?’ -John Donne, ‘The good-morrow’

Tak banyak yang terdengar tentang kisah Ketujuh Pemuda yang Tertidur selama masa Pencerahan yang rasional, namun mitos ini dihidupkan kembali dengan munculnya Romantisisme. Legenda Emas mungkin telah menjadi sumber untuk menceritakan kembali kisah Ketujuh Pemuda ini dalam Confessions of an English Opium-eater, oleh Thomas de Quincey, dalam bentuk puisi oleh Goethe, dan, yang paling dikenal oleh orang Amerika, dalam kisah karya Washington Irving tentang Rip van Winkle. Lihat pula motif mitos dari ‘raja di gunung’.

Aneka rupa

Di Indonesia nama tersebut banyak dipakai oleh warga keturunan Aceh, contoh: Maksalmina Ali (eks Bupati Aceh Selatan).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: